(via artpixie)
(Source: wants-perfection, via the-absolute-best-posts)
What I am doing right now. (Taken with instagram)
Soekarno Angkat Bicara
Silahkan dinikmati… ini sebenarnya recreate dari image yang sama yang sudah beredar di Internet, cuma dibenerin kata-katanya sama source gambar dicari yang lebih baik
dari Aditya Cakasana
dan aku sudah memiliki satu pria alay hahahaha
(Source: lockerz.com)
The best green tea in the town! 🍦 (Taken with instagram)
New Year Means New Hopes”
(Source: imgfave, via the-absolute-best-posts)
Belajar sabar ya, Sa. Orang orang itu isi pikiran dan hatinya beda-beda, ga bisa lo samain. Apalagi lo paksain. Ya yang bisa sependapat sama lo, sebuah keberuntungan aja. Jangan ya sa, biar mereka sendiri yang menentukan nasib mereka dan lo menentukan nasib lo sendiri. Apapun yang terjadi, sabar ya Sa :)
thippe: Some random thought »
I’ve heard about some people that are too serious taking their relationships nowadays. They made promises about the future, their kids name, their house and so whatever. At the age like this? Eighteen going to nineteen? I mean, have they ever think that their relationship gonna sink one day? That…
Ah couldn’t agree more. Bahkan pacaran lama (sekitar 3 tahun lebih) tidak bisa jadi jaminan sebuah hubungan di usia belia itu akan ‘pasti’. Girls, take your time.
be tough, sa.”
Dewasa, bisa menerima kekalahan.”
— :)
(via thecoppertonebaby)
(via sxrasha)
Masalah Almamater dan Arogansi
Okay, di malam yang menggalaukan ini gue ingin sedikit sharing tentang beberapa opini di kepala gue tentang Almamater dan Arogansi. Ceritanya hal ini ingin gue ungkit akibat membaca beberapa thread di kaskus, mengenai ‘gede gedean’ antara TOP 3 PTN Indonesia yaitu UI, ITB, dan UGM dan sebuah thread lagi yang menurut gue emang agak objektif sih tentang sebuah PTN yang menurut gue emang bagus (kalo ga bagus ga mungkin kan orang mau masuk situ? gue aja pengen walaupun ga kesampaian).
Agak bingung sih ya merangkai kata katanya, menurut gue secara pribadi (terutama setelah gue masuk UGM) almamater bukanlah suatu big deal yang perlu dilebih lebihkan. Walaupun kita harus mengiyakan, siapa sih yang ga pengen masuk PTN? Apa sih gunanya kita bimbel 7 hari seminggu dari pulang sekolah sampe tengah malem? Apa sih gunanya kita ngerelain weekend kita selama setahun penuh cuma buat try out? Semua (terutama di SMA gue, SMA 78) pasti pengen masuk PTN dengan jurusan yang dipengen pula. Semuanya dibela-belain dari segi fisik dan materi tentunya.
Dan apasih yang kita rasain kalo dapet PTN? Seneng? Euforia? Iya gue setuju banget. Walaupun gue pengen FSRD ITB, dan yang gue dapet malah Pangan UGM tapi gue sangat sangat sangat bahagia (biarpun ga dapet itb ga kalah sangat sangat sangat sedih). Jadilah euforia berlebihan untuk menutupi kesedihan gue. Wajar? Wajar untuk waktu tertentu.
Setelah beberapa waktu di dalam UGM, gue justru mendapatkan banyak perubahan. Selain perubahan sikap juga perubahan pikiran. Gue pun mulai memikirkan ke-euforia-an almamater ini. Oh iya ya, gue ngapain lebay banget ngebanggain almamater gue, padahal isinya ternyata biasa aja.
Seperti kata senior gue, “Jangan bangga kamu bisa masuk UGM! Sebelum kamu bisa membuat UGM bangga sama kamu. Ga ada arti kamu di sini kalau cuma jadi benalu! Cuma bisa teriak teriak UGM tapi malah mencemarkan nama UGM! Perbaiki semua isi otak kamu! Jangan bangga sama diri sendiri!”
Oke, sejak komdis yang ngomong itu gue tertohok.
Oh iya, gue belum bisa ngasih apa apa buat almamater gue.
Haruskah gue bangga karena gue bisa menjadi almamater ini? Iya.
Haruskah gue bangga dengan prestasi almamater ini? Iya.
Haruskah gue berlebihan? Tidak.
Sekaligus, gue rasa kita udah dewasa untuk mengurusi hidup masing masing ya? Gue udah ga ambil pusing masalah almamater. Toh yang kita lihat nantinya belum tentu sesuai sama ekspektasi kita. Jadi masalah bagus bagusan almamater, udahlah simpen aja baik-baik. Udah terlalu tua untuk mempermasalahkan almamater. Malu sama umur.
Buat semua yang mikir gue suka banggain almamater gue, sorry kalo gue berlebihan. Tapi sekedar nge-retweet prestasi yang didapat almamater gue apakah berlebihan? yang lain (termasuk elo) juga suka nge-retweet kan? Itu sebagai bentuk rasa bangga dan rasa cinta lo ke almamamter lo kan? Apakah itu berlebihan? Sorry, kita aja udah terpisah jarak. Seharusnya lo ga menilai seseorang hanya dari masa lalu dan sosial media. Bahkan sampe detik ini gue ga mau foto pakai jaket almamater dan dipasang di sosial media, malu-belum bisa kasih apa apa-bahkan belajar dengan baik sebagai wujud syukur bisa masuk ke sini aja belum.
yah semoga tulisan di kala ga bisa tidur ini bisa membuat yang baca sadar, kalau kalian ga perlu ngurusin masalah almamater dan arogansi-nya lah. Yang penting kita belajar dengan baik, bersosialisasi dengan baik (ga usah cari cari musuh, mending cari temen kan?), dan menjaga nama baik alamamter masing-masing. Syukur-syukur bisa kasih prestasi buat almamater selain dapet nilai bagus doang.Dari pada saling menjatuhkan almamater dengan ngejelekin fasilitas lah apalah, padahal di dunia kerja nanti yaaaa temen kita juga dari campuran berbagai almamater. Yagak? Setuju gak?
Matur Nuwun, Berkah dalem :)
The Other Place (The Anagram, poems by Laksmi Pamuntjak) (Taken with instagram)

